Pages

Jumat, 13 Maret 2015

DEAD WITH FALERA - For You Forever Chapter 2




Yang suka DWF silahkan menyaksikan...

Rabu, 11 Maret 2015

PUISI : KACAU

KACAU
Hari ini aku mengeluh
Bersendirian dengan ego
Mencemuh segala yang lepas
Kerugian pada masa yang hilang

Sedang aku berenang meredah
Celahan kota
Tiap langkah ku pijak
Selangkah demi selangkah
Melihat kota yang penuh dengan khilaf

Ku henyak hentak kepalaku
Memikirkan masalah yang sepertinya
Tiada jalan keluar

Lafadz bismillahirahmannirrahim ku hembus
Sesungguhnya
Dengan nama Allah yang maha
Pemuarah lagi maha penyayang
Seketika itu,
Otak yang tidak memikir jalan keluar
Dari masalah yang kecil zarah
Terus aku bertasbih, tahmid, dan
Takbir tidak berhenti,
Ligat otak ku memutarkan
Wajah-wajah cahaya
Yang mati mempertahankan agama,
Bangsa dan Negara
Terpampang wajah sayu mereka
Meredhakan pemergian sang anak
Yang hanya mampu bertatih di bunuh!

Seketika itu aku melihat kembali diri ini
Masalah aku hadapi pasti langsai
Tapi mereka? Masih bermandikan darah
Keringat mengangkat senjata
Setiap langkah dipandu hati yang tegar





Naskah Drama 5 Orang

naskah drama 5 orang (3 perempuan dan 2 laki-laki)
Berakhir menjadi sahabat

   Suatu hari, ada anak baru di kelas IX-C yang bernama Putra. Dia anak yang cupu dan kurang bergaul.

Leta : Eh.. ada anak baru tuh! Kerjain yuk...
Vita : Ayo.. kapan?
chika : Ntar aja istirahat, pas dia di kantin
( bel istirahatpun berbunyi )
Leta : Udah bel tuh, kok dia belum keluar ya?
Vita : Aduuh.. lama banget sih tuh anak
Chika :Eh, tuh dia keluar. Siap-siap ya...
( Putra keluar membawa bekal makannya. Dan Chika Putra)
Putra : Aduuh!
Leta : Mampus lo!
(Mereka bertiga tertawa )
Riki : Kalian tuh apa-apaan sih?
( Sambil membantu Putra bangun )
Vita : Kenapa? Gak suka lo?
Riki : Ga suka gue! Lo perlakuin dia sesuka lo!
Chika : Eh, gue gak punya masalah ya sama lo! Jadi gue harap lo gak usah ikut campur!
Riki : Tapi lo jangan seenaknya gini dong sama dia!
Chika : Jadi lo gak suka kalo gue gituin dia ? Apa lo mau nasib lo kayak tuh anak?
Riki : Yaudahlah Tra, jangan diladenin orang kaya gitu. Mendingan kita pergi dari sini.
Leta : Wah... makin cari gara-gara aja dia. Kita kan belum selesai bicara, udah pergi aja..
Vita : Santai.. gue udah ada ide untuk ngerjain mereka.
Leta : Memangnya apa ide lo?
Vita : Gimana kalo kita kunciin di gudag?
Chika : Bagus tuh!
( Bel masuk pun berbunyi )
Chika : Udah bel, masuk kelas yuk..
Leta : Ayo..
( Dan akhirnya bel pulang berbunyi )
Riki :Put,, mau pulang bareng gak?
Putra : Boleh boleh
Vita : Eh, mereka udah keluar tuh?
( Leta tiba-tiba memanggil Riki dan Putra )
Leta : Putra! Riki ! Sini deh..
Riki : Kenapa?
Leta : Kalian disuruh ambil buku-buku lama di gudang
Pytra : Disuruh siapa?
Leta : Ya petugas perpustakaan lah!
Riki : Sekarang?
Vita : Ya iya lah...! Masa besok!
Putra : Ya sudah, yuk Riki kita ke gudang.
( Putra dan Riki sedang memilih buku-buku lama )
Putra : Loh..! kok pintunya tertutup? Siapa yang ngunci pintunya?
Riki : Pasti mereka bertiga yang ngunciin kita di sini.
( Putra dan Riki minta tolong )
(Keesokan harinya )
( Chika, Vita dan leta masuk seperti biasanya )
( Tiba-tiba ada seorang teman yang memberi tahu mereka bahwa mereka dipanggil ke ruangan BK )
Chika : Ada apa ya? Kok kita dipanggil ke BK?
Vita : Gak tau deh, kenapa ya?
Leta : Aduh.. pasti ada apa-apa deh, gimana nih?
Chika : Ya sudah, ga usah takut. Ke sana aja dulu, siapa tau kita dapat prestasi.
Vita : Ya sudah, yuk cepetan.
( mereka bertiga pergi ke ruang BK )
( setelah sampai, mereka dimarahi karena telah mengunci Putra dan Riki di gudang. Guru BK menyarankan agar mereka tidak melakukannya lagi dan meminta maaf kepada Putra dan Riki. )
Cleta, Vita, Leta : Riki, Putra. Kita minta maaf ya atas perlakuan kita ke kalian. Kalian mau kan maafin kita?
Putra : Ya sudah, kita maafin. Tapi kalian janji ya ngga akan gitu lagi sama kita?
Vita : Iya, kita janji.
Riki : Gimana kalo sekarang kita temenan aja?
Leta : Ide bangus tuh!
Putra : Jadi sekarang kita temenan nih?
Chika, Vita, Leta dan Riki : ya iyalah.....
Riki : Kenapa gak dari dulu aja sih kita kaya gini ?
Riki : Iya, kan enakan juga kaya gini daripada musuhan.
Vita : Iya juga ya, kenapa gak dari dulu aja kita kaya gini.
Leta : Iya, gue maunya juga kaya gini. Tapi kan sifat jahil kita bertiga yang buat kita banyak musuh.
Chika : Ya sudahlah... gak usah diungkit-ungkit lagi masalah yang udah lalu, yang penting kan sekarang kita udah temenan. Dan gue mau kita gak cuma temenan aja. Gue mau kita jadi sahabat, untuk selamanya. Dan gak ada lagi yang namanya musuhan lagi.
Putra : Iya, gue juga maunya kita jadi sahabat yang menolong satu sama lain.
Vita : Dan gue juga mau kita semua saling peduli, seperti kalau ada temen yang sedih kita ada buat dia
Leta : Dan kalau dia lagi senang, kita juga ngerasain bareng-bareng.
Riki : Iya, bener banget tuh! ( Sambil tersenyum)
Akhirnya merekapun bersahabat


Unsur Intrinsik Novel Negeri 5 Menara

MENGANALISIS UNSUR INTRINSIK
NOVEL NEGERI 5 MENARA KARYA A. FUADI

a)       Unsur-Unsur Intrinsik
1.      Tema
Tema Novel Negeri 5 Menara adalah Pendidikan, hal ini dapat lihat dari lembaran-lembaran novel ini yang menceritakan bagaimana tokoh-tokoh utama di dalamnya mengenyam pendidikan di dunia pesantren, apalagi dalam novel ini dibuka dengan kata mutiara dari Imam Syafi'i yang berhubungan dengan penuntutan ilmu : (Negeri 5 Menara, sebelum hal.1/xii)
2.        Penokohan
Tokoh-tokoh dan watak dalam novel Negeri 5 Menara, yaitu:
a)      Amak
·         Seorang wanita separuh baya yang ramah : [“Mukanya selalu mengibarkan senyum ke siapa saja” (Negeri 5 Menara, hal.6)]
·         Rela Berkorban : [“Amak terpaksa menjadi guru sukarela yang hanya dibayar dengan beras selama 7 tahun” (Negeri 5 Menara, hal.6)]
·         Peduli akan nasib umat Islam : [“…Bagaimana nasib umat Islam nanti?” (Negeri 5 Menara, hal.7)]
·         Seorang ibu yang konsisten terhadap keputusannya : [“Pokoknya Amak tidak rela waang masuk SMA!” (Negeri 5 Menara, hal.9)]
·         Adil : [“…Keadilan harus dimulai dari diri sendiri, bahkan dari anak sendiri. Aturannya adalah siapa yang tidak mau menyanyi dapat angka merah” (Negeri 5 Menara, hal.139)]
b)     Ayah
·         Seorang pria separuh baya yang membela kebenaran : [“Mungkin naluri kebapakannya tersengat untuk membela anak dan sekaligus membela dirinya sendiri” (Negeri 5 Menara, hal. 20)]
·         Dapat dipercaya : [“Amanat dari jamaah surau kami untuk membeli seekor sapi untuk kurban idul adha minggu depan telah ditunaikan Ayah” (Negeri 5 Menara, hal.91)]
c)      Alif ( tokoh utama)
·         Seorang lelaki yang penurut : [“Selama ini aku anak penurut” (Negeri 5 Menara, hal.11)]
·         Ragu-ragu : [“Bahkan sesungguhnya aku sendiri belum yakin betul dengan keputusan ini” (Negeri 5 Menara, hal.18)]
·         Teliti : [“Sejenak, aku cek lagi kalau semuanya telah rapi dan licin, tidak ada gombak dan kusut” (Negeri 5 Menara, Hal. 84)]
d)     Dulmajid
·         Seorang lelaki yang Mandiri : [“Tentu saja saya datang sendiri,” (Negeri 5 Menara, hal.27)]
·         Semangat : [“Animo belajarnya memang maut” (Negeri 5 Menara, hal.46)]
·         Jujur, tegas serta setia kawan : [“Aku menyadari dia orang paling jujur, paling keras, tapi juga paling setia kawan yang aku kenal.” (Negeri 5 Menara, hal.46)]
e)      Raja
·         Seorang lelaki yang Percaya diri : [“Raja Lubis yang duduk di meja paling depan maju” (Negeri 5 Menara, hal.44)]
·         Ekspresif : [“…Tampak mengayun-ayunkan tinjunya diudara sambil berteriak “Allahu Akbar!” (Negeri 5 Menara, hal.108)]
·         Pantang menyerah : [“Jangan. Kita coba dulu. Aku saja yang maju duluan,” (Negeri 5 Menara, hal.124)]
f)       Atang
·         Menepati Janji : [“Sesuai Janji, Atang yang membayari ongkos” (Negeri 5 Menara, hal.221)]
·         Baik : [Aku bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang baik dan tersebar dibeberapa kota seperti Atang dan Said.” (Negeri 5 Menara, hal.226)]
g)      Said
·         Seorang lelaki yang memberi motivasi : [“…senyum dan cerita yang mengobarkan semangat” (Negeri 5 menara, hal.45)]
·         Berfikir dewasa  : [“Perawakan yang seperti orang tua dan cara berpikirnya yang dewasa membuat kami menerimanya sebagai yang terdepan” (Negeri 5 menara, hal.156)]
·         Seorang lelaki yang mengambil kebaikan dari suatu kejadian : [“Aku sendiri mengagumi caranya melihat segala sesuatu dengan positif” (Negeri 5 Menara, hal.156)]
·         Baik : [Aku bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang baik dan tersebar dibeberapa kota seperti Atang dan Said.” (Negeri 5 Menara, hal.226)]
h)     Baso
·         Seorang lelaki yang Disiplin : [“Dia begitu disiplin menyediakan waktu untuk membaca buku favoritnya” (Negeri 5 Menara, hal.92)]
·         Rajin : [“Baso anak paling rajin diantara kami” (Negeri 5 Menara, hal.92)]
·         Sunguh-sungguh : [“Hampir setiap waktu kami melihat Baso membaca buku pelajaran dan Al-Quran dengan sungguh-sungguh” (Negeri 5 Menara, hal.357)]
·         Pendiam, Pemalu serta Tertutup : [“Selama ini memang Baso lah kawan kami yang paling Pendiam, Pemalu dan tertutup” (Negeri 5 Menara, hal.359)]
i)        Kiai Rais
·         Seorang lelaki separuh baya yang menjadi contoh di PM : [“…yang menjadi panutan kita dan semua orang selama di PM ini” (Negeri 5 Menara, hal.49)]
·         Berbakat : [“Kiai Rais adalah sosok yang bisa menjelma menjadi apa saja” (Negeri 5 Menara, hal. 165)]
j)       Tyson
·         Seorang lelaki yang Tegas : [“…Terlambat adalah terlamabat. Ini pelanggaran” (Negeri 5 Menara, hal.66)]
3.      Latar
a.       Latar tempat
·         Kantor Alif (Washington DC)
[“Dari balik kerai tipis di lantai empat ini..” (Negeri 5 Menara, hal.1)]
·         Rumah Alif (Maninjau, Bukittinggi)
[“Sampai sekarang kami masih tinggal di rumah kontrakan beratap seng dengan dinding dan lantai kayu” (Negeri 5 Menara, hal.7)]
·         Trafalgar Square (London)
[“Tidak lama kemudian aku sampai di Trafalgar Square, sebuah lapangan beton yang amat luas.” (Negeri5 Menara, hal.400)]
·         Pondok Madani
           Latar tempat di pondok Madani sebenarnya banyak contohnya, namun kami beri satu contoh yaitu:
[“Tidak terasa, hampir satu jam kami berkeliling PM.” (Negeri 5 Menara, hal.35)]
·         Rumah Atang (Bandung)
[“Kaca depan rumahnya menempel sebuah stiker hijau dengan gambar matahari di tengahnya” (Negeri 5 Menara, hal.218)]
·         Rumah Said (Surabaya)
[“...Mengajak kami keliling ke berbagai objek wisata di sekitar Surabaya...” (Negeri 5 Menara, hal.226)]
·         Apartemen Raja (London)
[“Malam itu kami menginap di apartemen Raja di dekat Stadion Wembley...” (Negeri 5 Menara, hal.402)]
b.      Latar waktu
·         Dini hari
      [“Dalam perjalananku dari Padang ke Jawa Timur, aku sempat sekilas melewati Jakarta jam tiga dini hari.” (Negeri 5 Menara, hal.47)]
·         Pagi hari
          [“Sejak dari pagi buta suasana PM sudah heboh.” (Negeri 5 Menara, hal.214)]
·         Sore hari
      [“Tidak siap menjawab pertanyaan interogatif di senja bergerimis dalam keadaan kepayahan ini.” (Negeri 5 Menara, hal.66)]
·         Malam hari
[“Malam ini adalah salah satu dari malam-malam inspiratif yang digubah oleh Ustad Salman.” (Negeri 5 Menara, hal.108)]
c.       Latar Suasana
·         Sepi
[“Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi” (Negeri 5 Menara, hal.3)]
·         Emosi
[“Sebelum mereka menyahut, aku telah membanting pintu dan menguncinya” (Negeri 5 Menara, hal.10)]
·          Takut
        [“Aku katupkan mataku rapat-rapat. Apa yang akan dilakukan Tyson ini padaku” (negeri 5 Menara, hal.66)]
·          Gugup
[“Kalimat yang sudah aku bayangkan tadi berantakan di bawah sorot mata Ustad Torik yang bikin ngilu.” (Negeri 5 Menara, hal.126)]
·            Bahagia
        [“Dengan penuh kemenangan kami keluar dari gerbang PM” (Negeri 5 Menara, hal.127)]
·         Sedih
        [“Di ujung kelopak matanya aku menangkap kilau air yang siap luruh. Suaranya kini bergetar” (Negeri 5 Menara, hal.360)]
4.      Alur
Alur yang ada dalam novel “Negeri 5 Menara”, yaitu alur gabungan (maju-mundur). Hal ini dibuktikan oleh beberapa tahapan sebagai berikut:
·         Pengenalan / Awal cerita
Awal cerita dalam novel ini dibuka oleh Alif yang telah tinggal di Washington DC, Amerika Serikat dengan pekerjaannya sebagai Wartawan VOA, lalu setelah itu ia kembali mengingat masa lalunya saat konflik dimulai ["Aku tersenyum. Pikiranku langsung terbang jauh ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku" (Negeri 5 Menara, hal. 4)]
·         Timbulnya konflik / Titik awal pertikaian
Awal Pertikaian dimulai saat Amak menyuruh Alif untuk tidak melanjutkan sekolahnya ke SMA tetapi ke Pesantren dan Alif menolak permintaan Amak pada saat baru diberitahukan. Tetapi akhirnya, Alif pun bersedia bersekolah di pesantren yang terletak di luar pulau Sumatera walaupun hanya setengah hati : [“Jadi Amak minta dengan sangat waang tidak masuk SMA. Bukan karena uang tapi supaya ada bibit unggul yang masuk madrasah aliyah.” (Negeri 5 Menara, hal.8)]
·         Puncak konflik / Titik puncak cerita
Titik puncak cerita dimulai saat Alif sudah naik kelas 6 di Pondok Madani (PM) dan menjadi puncak rantai makanan alias kelas tertinggi di Pondok Madani : [“Seketika rasa ini melempar ingatanku kembali ke PM, ketika kami naik kelas enam, kelas pemuncak di PM.” (Negeri 5 Menara, hal.288)]
·         Antiklimaks
Antiklimaks dalam novel ini dimulai pada saat Alif serta santri PM lainnya akan mengadakan ujian akhir yang dilaksanakan oleh siswa tahun terakhir PM. [“Inilah ujian yang paling berat yang paling berat yang anak-anak temui di PM” (Negeri 5 Menara, hal.378)]
·         Penyelesaian masalah
Pada akhirnya, setelah alif menyelesaikan ujian pamungkas di PM serta lulus dari PM, cerita berbalik ke Alif yang telah sampai di London untuk bertemu dengan Atang dan Raja yang merupakan anggota Sahibul Menara : (Negeri 5 Menara, hal.400)
     


Jadi, amanat yang terkandung dalam novel Negeri 5 Menara ini adalah bahwa dalam mengejar semua cita-cita beserta impian, tidak semuanya berjalan sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan tapi semuanya berjalan seiring bagaimana kita menyelesaikan rintangan yang datang menghadang dan untuk mendapatkan menggapainya juga, kita harus mengorbankan sesuatu.

Peranan Kelembagaan Kelompok Tani-Ternak dalam Pemasaran Susu


Pembangunan sub sektor peternakan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan pertanian, harus dilaksanakan secara bertahap dan berencana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini dilakukan antara lain melalui peningkatan produksi ternak sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat peternak dari waktu ke waktu.

pembangunan peternakan dewasa ini telah diarahkan pada pengembangan peternakan yang lebih maju dengan pendekatan kewilayahan yaitu mengkonsentrasikan pengembangan sentra produksi pada wilayah-wilayah tertentu, penggunaan teknologi tepat guna dan penerapan landasan baru yaitu efisiensi, produktivitas dan suistainability. 

Usaha sapi perah merupakan padat karya sehingga dapat menyerap tenaga kerja sekaligus membangkitkan perekonomian masyarakat di perdesaan. Nilai rasio konsumsi dalam negeri dengan produk impor 1 : 2 membuka peluang untuk meningkatkan produksi susu domestik untuk memenuhi kebutuhan susu nasional. 

Daerah di luar Pulau Jawa sangat kaya dengan sumber pakan ternak ruminansia disamping lahan yang masih cukup luas juga terdapat daerah yang sesuai untuk pengembangan sapi perah. Laju pertumbuhan penduduk pesat (rata-rata 1,499 %/ tahun), terutama anak-anak usia sekolah sebagai konsumen utama produk susu. Selain itu meningkatnya kesadaran gizi masyarakat mengakibatkan meningkatnya konsumsi susu sehingga potensi pemasaran masih terbuka luas.

          Kebijakan impor susu
          Dalam peta perdagangan Internasional produk-produk susu, saat ini  Indonesia berada pada posisi sebagai net-consumer
          Dilihat dari sisi konsumsi, sampai saat ini konsumsi masyarakat Indonesia terhadap produk susu masih tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan Negara berkembang lainnya
          Kondisi produksi susu segar di Indonesia saat ini, sebagian besar (91 %) dihasilkan oleh usaha rakyat dengan skala usaha 1 – 3 ekor sapi perah per peternak  dan juga kondisi manajemen usaha sapi perah di tingkat peternak yang masih tradisional
          Kelembagaan  Kelompok Ternak dan Koperasi
          Untuk usaha sapi perah yang berperan dalam menerima produk sapi perah adalah koperasi yang berada di daerah tersebut dimana koperasi tersebut beranggotakan peternak sapi perah akan tetapi koperasi tersebut tidak sesuai dengan azasnya yaitu berakar dari bawah sehingga koperasi tersebut melaksanakan fungsinya dengan sistem komando terhadap anggota koperasi. Sifat komando itu dimulai dari cara memilih anggota yang ditetapkan oleh koperasi yang dikaitkan dengan pemberian bantuan sapi perah. Status anggota koperasi  hanya berfungsi pada saat menjual susu segar dan pembayaran iuran wajib dan iuran pokok.
          Masih rendahnya peranan penyuluh , baik di dalam perannya sebagai fasilitator, motivator dan katalisator menjadi penyebab tidak berpengaruh nyatanya peranan penyuluh dalam dinamika kelompok peternak sapi perah.
          Sebagian besar peternak sapi perah yang ada di Indonesia merupakan anggota koperasi susu. Peranan koperasi sebagai mediator perlu dipertahankan. Pelayanannya perlu ditingkatkan dengan cara meningkatkan kualitas SDM koperasi serta memperkuat networking dengan industry-industri pengolahan.
          Pada koperasi Sintari yang mengolah susu segar menjadi susu pasteurisasi memberikan pelayanan kepada peternak termasuk pendistribusian susu dan semua pelayanan ini harus dibayar kembali oleh peternak kepada koperasi melalui pemotongan harga produksi susu jadi koperasi mewajibkan peternak menjual seluruh produksi susu pada koperasi. Jadi pemasaran (supply chain) produk sapi perah sistem kemitraan langsung ke koperasi selanjutnya hasil olahan susu segar tersebut menjadi susu pasteurisasi (SUSIN) dan dipasarkan ke kota Makassar
          Sebagian besar susu segar  di Indonesia  terutama pulau Jawa dipasarkan ke IPS untuk semua kelompok koperasi dengan pangsa sekitar 86 % - 88 %  sementara  di Sulawesi Selatan yaitu pada koperasi Sintari yang mengolah susu segar menjadi susu pasteurisasi memberikan pelayanan kepada peternak termasuk pendistribusian susu
          Sebagian besar peternak sapi perah yang ada di Indonesia merupakan anggota koperasi susu. Koperasi tersebut merupakan lembaga yang bertindak sebagai mediator antara peternak dengan industry pengolahan susu. Koperasi susu sangat menentukan posisi tawar peternak dalam menentukan jumlah penjualan susu, waktu penjualan dan harga yang akan diterima peternak.
          Pemerintah perlu memberikan dukungan nyata untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil ternak (susu) kepada para peternak.
          Perlu dibentuk wadah kemitraan yang jujur dan memperhatikan kepentingan bersama antara peternak, koperasi susu dan industri pengolahan susu.
          Koperasi susu perlu didorong dan difasilitasi agar dapat melakukan pengolahan sederhana susu segar, antara lain yakni pasteurisasi dan pengemasan susu segar, pengolahan menjadi yogurt, keju dsb.
          Pemerintah Pusat maupun Daerah seyogianya mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mampu memperkuat posisi tawar peternak sapi perah khususnya dan pengembangan agribisnis berbasis peternakan umumnya.
          mengefektifkan kinerja dewan persusuan nasional

Sumber: ambil file punya ayah
Terimakasih atas kunjungannya. 

Asal Usul Huruf Jawa

                      ASAL USUL HURUF JAWA


     Dahulu kala, disebuah kerajaan medhangkamulan bertahtalah seorang raja bernama Dewata Cengkar atau dikenal dengan nama prabu Dewata Cengkar.Prabu Dewata Cengkar merupakan seorang raja yang sangat rakus, bengis, tamak, dan suka memakan daging manusia. “Hahaha, mana manusia santapanku?” Karena kegemarannya memakan daging manusia, maka secara bergilir rakyatnya pun dipaksa menyetor upeti berwujud manusia. Mendengar kebengisan prabu Dewata Cengkar seorang pengembara bernama Aji saka bermaksud menghentikan kebiasaan sang Prabu. Aji saka mempunyai 2 orang abdi yang sangat setia bernama Dora dan Sembada. Dalam perjalanan kekerajaan medangkamulan, Aji saka mengajak Dora, sedangkan Sembada tetap ditempat karena harus menjaga sebuah pusaka sakti milik Aji saka. Aji saka berpesan kepada sembada”wahai Dora, ikutlah engkau bersamaku ke istana Medhangkamulan menemui Raja Dewata Cengkar”, “baik Aji saka”, Dan kau Sembada tetaplah kau disini simpan dan jagalah pusaka saktiku ini, jangan sampai ada yang boleh mengambil pusaka ini kecuali aku sendiri”.”Baik Aji ska”. Aji saka dan Dora pun pergi meninggalkan Sembada. Setelah beberapa waktu sampailah Aji saka ke kerajaan Medhangkamulan yang sepi. “Wah ini kerajaan sepi sekali seperti tak berpenghuni”, “mungkin masyarakat disini takut keluar rumah karena takut menjadi santapan lezat sang raja bengis.” Aji saka segera menuju Istan dan menjumpai sang patih.”Raja saya siap dan sanggup menjadi santapan lezat raja.” Tibalah pada hari dimana Aji ska akan dimakan,  sang prabu  selalu mengabulkan 1 permintan dari calon korban. “ Wahai Aji saka, apakah permintaan terakhirmu sebelum kau menjadi santapanku.” “Raja, saya ingin tanah seluas sorban kepalaku.” “Hahahaha,baiklah.” Aji saka pun segera membuka kain sorban penutup kepalanya. Aji ska memegagang salah satu ujung surban sedangkan yang lain dipegang raja Dewata Cengkar. Aneh, sorban itu mengembang sendiri sehingga prabu Dewata Cengkar harus berjalan mundur, mundur dan mundur. Hingga sampai ditepi pantai selatan. Dengan cepat Aji saka mengibaskan syurbannya  sehingga membungkus badan Dewata Cengkar dan menendangnya tercebur dilaut. Dan tubuh Dewata Cengkar berubah menjadi buaya putih. “kau memang pantas menjadi buaya karena kegemaranmu memakan daging manusia dan lautlah tempatmu.”Sejak saat itu kerajaan Medhangkamulan dipimpin oleh Aji saka.Tiba-tiba Aji saka teringat akan pusaka saktinya,dan menyuruh Dora untuk mengambilnya. “Wahai Dora, maukah kamu mengambilkan pusaka skati milikku.” “Baik Aji saka”. Dora pun pergi meninggalkan Aji saka. Sesampainya di sana Dora meminta agar Sembada mau memberikan pusaka milik Aji saka.”Wahai sembada, berikanlah aku pusaka sakti milik Aji saka” “Tidak tak akan ku serahkan pusaka ini padamu”. Maka terjadilah peperangan antara Dora dan sembada karena memiliki kesaktiyan yang seimbang maka mereka meninggal secara bersamaan. Aji saka yang teringat akan pesannya kepada Sembada, segera menyusul. “Saya lupa, akan pesan saya kepada Sembada, sata harus segera menyusul mereka.” Namun terlambat, sesampainya disana kedua abdinya yang sangat setia itu sudah tewas. “ ohh tidak… kedua abdi saya yang sangat setia ini sudah tewas”. Untuk mengenangnya Aji saka mengabadikan dalam sebuah  aksara/huruf. “Untuk mengenang kedua abdiku yang sangat setia ini saya akan mengabadikan dengan makna kata”Ada seorang utusan yang sama-sama kuatnya, sama-sama hebatnya dan mereka saling berpangku saat meninggal. Pada saat itu muncul aksara/huruf jawa dan sampai saat ini aksara/huruf jawa dikenal di banyak daerah.