ASAL USUL HURUF JAWA
Dahulu kala, disebuah kerajaan medhangkamulan bertahtalah
seorang raja bernama Dewata Cengkar atau dikenal dengan nama prabu Dewata
Cengkar.Prabu Dewata Cengkar merupakan seorang raja yang sangat rakus, bengis,
tamak, dan suka memakan daging manusia. “Hahaha, mana manusia santapanku?”
Karena kegemarannya memakan daging manusia, maka secara bergilir rakyatnya pun
dipaksa menyetor upeti berwujud manusia. Mendengar kebengisan prabu Dewata
Cengkar seorang pengembara bernama Aji saka bermaksud menghentikan kebiasaan
sang Prabu. Aji saka mempunyai 2 orang abdi yang sangat setia bernama Dora dan
Sembada. Dalam perjalanan kekerajaan medangkamulan, Aji saka mengajak Dora,
sedangkan Sembada tetap ditempat karena harus menjaga sebuah pusaka sakti milik
Aji saka. Aji saka berpesan kepada sembada”wahai Dora, ikutlah engkau bersamaku
ke istana Medhangkamulan menemui Raja Dewata Cengkar”, “baik Aji saka”, Dan kau
Sembada tetaplah kau disini simpan dan jagalah pusaka saktiku ini, jangan
sampai ada yang boleh mengambil pusaka ini kecuali aku sendiri”.”Baik Aji ska”.
Aji saka dan Dora pun pergi meninggalkan Sembada. Setelah beberapa waktu
sampailah Aji saka ke kerajaan Medhangkamulan yang sepi. “Wah ini kerajaan sepi
sekali seperti tak berpenghuni”, “mungkin masyarakat disini takut keluar rumah
karena takut menjadi santapan lezat sang raja bengis.” Aji saka segera menuju
Istan dan menjumpai sang patih.”Raja saya siap dan sanggup menjadi santapan
lezat raja.” Tibalah pada hari dimana Aji ska akan dimakan, sang prabu
selalu mengabulkan 1 permintan dari calon korban. “ Wahai Aji saka,
apakah permintaan terakhirmu sebelum kau menjadi santapanku.” “Raja, saya ingin
tanah seluas sorban kepalaku.” “Hahahaha,baiklah.” Aji saka pun segera membuka
kain sorban penutup kepalanya. Aji ska memegagang salah satu ujung surban
sedangkan yang lain dipegang raja Dewata Cengkar. Aneh, sorban itu mengembang
sendiri sehingga prabu Dewata Cengkar harus berjalan mundur, mundur dan mundur.
Hingga sampai ditepi pantai selatan. Dengan cepat Aji saka mengibaskan
syurbannya sehingga membungkus badan
Dewata Cengkar dan menendangnya tercebur dilaut. Dan tubuh Dewata Cengkar
berubah menjadi buaya putih. “kau memang pantas menjadi buaya karena kegemaranmu
memakan daging manusia dan lautlah tempatmu.”Sejak saat itu kerajaan
Medhangkamulan dipimpin oleh Aji saka.Tiba-tiba Aji saka teringat akan pusaka
saktinya,dan menyuruh Dora untuk mengambilnya. “Wahai Dora, maukah kamu
mengambilkan pusaka skati milikku.” “Baik Aji saka”. Dora pun pergi
meninggalkan Aji saka. Sesampainya di sana Dora meminta agar Sembada mau
memberikan pusaka milik Aji saka.”Wahai sembada, berikanlah aku pusaka sakti
milik Aji saka” “Tidak tak akan ku serahkan pusaka ini padamu”. Maka terjadilah
peperangan antara Dora dan sembada karena memiliki kesaktiyan yang seimbang
maka mereka meninggal secara bersamaan. Aji saka yang teringat akan pesannya
kepada Sembada, segera menyusul. “Saya lupa, akan pesan saya kepada Sembada,
sata harus segera menyusul mereka.” Namun terlambat, sesampainya disana kedua
abdinya yang sangat setia itu sudah tewas. “ ohh tidak… kedua abdi saya yang
sangat setia ini sudah tewas”. Untuk mengenangnya Aji saka mengabadikan dalam
sebuah aksara/huruf. “Untuk mengenang kedua
abdiku yang sangat setia ini saya akan mengabadikan dengan makna kata”Ada
seorang utusan yang sama-sama kuatnya, sama-sama hebatnya dan mereka saling
berpangku saat meninggal. Pada saat itu muncul aksara/huruf jawa dan sampai
saat ini aksara/huruf jawa dikenal di banyak daerah.






0 komentar:
Posting Komentar