Pages

Rabu, 11 Maret 2015

Asal Usul Huruf Jawa

                      ASAL USUL HURUF JAWA


     Dahulu kala, disebuah kerajaan medhangkamulan bertahtalah seorang raja bernama Dewata Cengkar atau dikenal dengan nama prabu Dewata Cengkar.Prabu Dewata Cengkar merupakan seorang raja yang sangat rakus, bengis, tamak, dan suka memakan daging manusia. “Hahaha, mana manusia santapanku?” Karena kegemarannya memakan daging manusia, maka secara bergilir rakyatnya pun dipaksa menyetor upeti berwujud manusia. Mendengar kebengisan prabu Dewata Cengkar seorang pengembara bernama Aji saka bermaksud menghentikan kebiasaan sang Prabu. Aji saka mempunyai 2 orang abdi yang sangat setia bernama Dora dan Sembada. Dalam perjalanan kekerajaan medangkamulan, Aji saka mengajak Dora, sedangkan Sembada tetap ditempat karena harus menjaga sebuah pusaka sakti milik Aji saka. Aji saka berpesan kepada sembada”wahai Dora, ikutlah engkau bersamaku ke istana Medhangkamulan menemui Raja Dewata Cengkar”, “baik Aji saka”, Dan kau Sembada tetaplah kau disini simpan dan jagalah pusaka saktiku ini, jangan sampai ada yang boleh mengambil pusaka ini kecuali aku sendiri”.”Baik Aji ska”. Aji saka dan Dora pun pergi meninggalkan Sembada. Setelah beberapa waktu sampailah Aji saka ke kerajaan Medhangkamulan yang sepi. “Wah ini kerajaan sepi sekali seperti tak berpenghuni”, “mungkin masyarakat disini takut keluar rumah karena takut menjadi santapan lezat sang raja bengis.” Aji saka segera menuju Istan dan menjumpai sang patih.”Raja saya siap dan sanggup menjadi santapan lezat raja.” Tibalah pada hari dimana Aji ska akan dimakan,  sang prabu  selalu mengabulkan 1 permintan dari calon korban. “ Wahai Aji saka, apakah permintaan terakhirmu sebelum kau menjadi santapanku.” “Raja, saya ingin tanah seluas sorban kepalaku.” “Hahahaha,baiklah.” Aji saka pun segera membuka kain sorban penutup kepalanya. Aji ska memegagang salah satu ujung surban sedangkan yang lain dipegang raja Dewata Cengkar. Aneh, sorban itu mengembang sendiri sehingga prabu Dewata Cengkar harus berjalan mundur, mundur dan mundur. Hingga sampai ditepi pantai selatan. Dengan cepat Aji saka mengibaskan syurbannya  sehingga membungkus badan Dewata Cengkar dan menendangnya tercebur dilaut. Dan tubuh Dewata Cengkar berubah menjadi buaya putih. “kau memang pantas menjadi buaya karena kegemaranmu memakan daging manusia dan lautlah tempatmu.”Sejak saat itu kerajaan Medhangkamulan dipimpin oleh Aji saka.Tiba-tiba Aji saka teringat akan pusaka saktinya,dan menyuruh Dora untuk mengambilnya. “Wahai Dora, maukah kamu mengambilkan pusaka skati milikku.” “Baik Aji saka”. Dora pun pergi meninggalkan Aji saka. Sesampainya di sana Dora meminta agar Sembada mau memberikan pusaka milik Aji saka.”Wahai sembada, berikanlah aku pusaka sakti milik Aji saka” “Tidak tak akan ku serahkan pusaka ini padamu”. Maka terjadilah peperangan antara Dora dan sembada karena memiliki kesaktiyan yang seimbang maka mereka meninggal secara bersamaan. Aji saka yang teringat akan pesannya kepada Sembada, segera menyusul. “Saya lupa, akan pesan saya kepada Sembada, sata harus segera menyusul mereka.” Namun terlambat, sesampainya disana kedua abdinya yang sangat setia itu sudah tewas. “ ohh tidak… kedua abdi saya yang sangat setia ini sudah tewas”. Untuk mengenangnya Aji saka mengabadikan dalam sebuah  aksara/huruf. “Untuk mengenang kedua abdiku yang sangat setia ini saya akan mengabadikan dengan makna kata”Ada seorang utusan yang sama-sama kuatnya, sama-sama hebatnya dan mereka saling berpangku saat meninggal. Pada saat itu muncul aksara/huruf jawa dan sampai saat ini aksara/huruf jawa dikenal di banyak daerah.

0 komentar: