Kali ini saya akan memberikan cerpen karya saya sendiri.
Menulis cerpen
Tema : Sedang meyeberang Sungai, hamper terbawa arus
yang sangat deras
Pokok cerita : Aku dan teman-teman pergi mendaki Gunung Slaka.
Saat pulang, hujan deras datang dan kami harus melewati sungai yang arusnya
sangat deras. Aku dan 2 orang temanku terbawa arus namun akhirnya kami bertiga
bisa selamat dengan cara berpegangan pada bambu.
Kerangka
1)
Tahap pengenalan
Aku dan 5 orang temanku sudah berjanji akan pergi
mendaki Gunung Slaka.
2)
Tahap pemunculan
konflik
Pada
saat pulang, hujan deras datang dan kami harus menyeberang Sungai yang arusnya
sangat deras.
3)
Tahap klimaks
Saaat menyeberang Sungai,
aku dan 2 orang temanku terpeleset dan terbawa arus yang sangat deras.
4)
Tahap penurunan
konflik
Aku dan 2 orang temanku
bisa selamat dengan cara berpegangan pada bambu dan debogan ( pohon pisang)
5)
Tahap
penyelesaian
Setelah kejadian itu,
kami berjanji tidak akan bermain jauh-jauh karena kami masih anak-anak.
v Pengembangan
KESENANGAN BERUBAH MENJADI KETEGANGAN
Pada saat liburan, Aku dan 5 orang temanku sudah
berjanji akan pergi mendaki Gunung Slaka. Aku baru saja mandi sudah di tunggu
oleh temanku yaitu Doni, Agus, dan Ari.
“ Ga, cepatlah waktu sudah mulai siang !”
ucap Agus yang bernada marah.
“ Iya tunggu sebentar Aku sarapan dulu.”
Jawabku.
Setelah sarapan, Aku langsung mengeluarkan
jurus tangan kilat dan kaki seribu untuk mempersiapkan perlengkapan dan di
masukan ketas. Setelah itu Aku pamit kepada Ibu secara terburu-buru.
“ Bu, Aku mau pergi sama teman-teman?
Assalamu’alaikum.” Ucapku yang sedang tergesa-gesa.
“ Wa’alaikumsallam, ehhh mau kemana nak?
Jangan jauh-jauh perginya?” teriak Ibu.
Namun
Aku tidak menjawabnya karena Aku dan 3 orang temanku harus kerumah Asep dan Aji
dahulu.
Sesampainya di rumah Asep, Agus
berteriak.
“ Sep, ayo kita berangkat?” teriak Agus
yang terkenal dengan suaranya yang keras, namun hatinya lembut.
Doni memotong teriakan Agus.
“ Gus, jangan teriak-teriak, tidak sopan
tau. Kita harus salam dulu.” Ucap Doni.
Lalu
kami berempat mengetuk pintu rumah Asep.
“ Assalamu’alaikum.” Ucap kami.
Lalu
terdengar suara Asep.
“ Wa’alaikumsallam.” Jawab Asep.
Ternyata di dalam rumah Asep sudah ada Aji
yang sedang menunggu kita berempat.
“ Sudah lama nunggu kita ya Sep, Ji?” Tanya
Aku kepada Asep dan Aji.
“ Ya lumayan, sudah ada 10 menit.” Jawab
Aji.
Lalu kami berenam berangkat dengan lancar
tanpa halangan. Melewati persawahan, sungai, dan hutan. Sekitar 2,5 jam
perjalanan akhirya kami sampai di puncak Gunung Slaka. Gunung Slaka itu adalah
Gunung mati/ tidak aktif.
“Akhirnya kita sampai juga, walaupun
lelah sekali naiknya.” Ucap Aku.
Sesampainya disana, kami berfoto bersama dan
makan singkong bakar.
“ Asep, Doni, Aji, kalian cari kayu bakar,
nanti Aku, Ari, Agus yang mengupas singkongnya.” Ucap Aku kepada teman-temanku.
Setelah selesai makan, bermain, dll, kami
bersiap untuk pulang karena waktu sudah mulai sore.
“ Sudah mulai sore, ayo kita pulang.” Ucap
Asep.
“ Ayo cepat, cuacanya mulai mendung,nanti malah hujan!! Ucap Aji
dengan muka cemas.
Akhirnya yang kami khawatirkan
terjadi. Hujan yang sangat lebat datang, dan kami harus menyeberang sungai yang
arusnya deras.
“ Aduh, kan betul omonganku tadi. Hujan
datang dan kita belum menyeberang.” Ucap Aji yang semakin cemas.
“ Apa tidak ada jalan lain selain harus
menyeberang kali(sungai) wadas ?”
Tanya Ari kepada kami.
“ Ada, tapi jalannya jauh banget. Kalau kita
lewat jalan yang lain, nanti sampai rumah kemalaman.” Jawab Agus.
“ Aduh, kalau kemalaman nanti Aku dimaraih
Bapak dan Ibuku.” Jawab Doni.
“ Ya terpaksa kita harus menyeberang.” Jawab
Aku.
Lalu kita menyeberang kali Wadas ini.
Tiba-tiba Aku, Aji, dan Ari terpeleset dan terbawa arus yang sangat deras.
“ Tolonggg…, Kita terbawa arus.” Teriak Aku,
Aji, dan Ari.
Asep,
Doni, dan Agus berniat menolong kami. Namun arus yang sangat deras membuat
mereka tidak berani.
Aku berdoa dalam hati dan berusaha
memegang benda yang kuat untuk menyelamatkan diri. Setelah sekitar 50 meter
terbawa arus, Aku akhirnya bisa selamat dengan cara berpegangan pada bambu.
Doni dan agus berusaha menyelamatkan Aji dan Ari, sedangkan Asep menariku dari
sungai ke daratan.
“ Pegang tanganku yang kuat Ga, jangan
sampai lepas !” Ucap Asep kepada Aku.
Disaat
yang bersamaan Doni dan Agus menyelamatkan Aji dan Ari dengan sebatang pohon
pisang.
“ Ji, Ar, kalian pegangan ke pohon pisang ini
!!” Teriak Agus.
Akhirnya kita bisa selamat dari arus yang
sangat deras.
“ Alhamdulillah kita bisa selamat, terima
kasih kawan.” Ucapku.
“ Kita jangan lagi pergi jauh-jauh dari
rumah.” Ucap Ari dengan muka seperti akan nangis.
“ yap, betul. Tadi Aku seperti tidak
bernyawa lagi” Ucap Aji.
“ Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan.
Sebentar lagi sampai rumah.” Ucap Doni.
Walaupun
jantung kami berdetak dag dig dug sangat kencang, kami melanjutkan perjalanan
pulang.
Setelah kejadian itu, kami tidak berani
lagi bermain jauh-jauh dari rumah dan di Sungai pada saat hujan.
Amanat
1.
Sebaiknya kita
kalau akan pergi, harus izin dahulu kepada orang tua dan izinya harus jelas
serta harus mendengar perkataan orang tua.
2.
Kalau masih
anak-anak perginya jangan jauh-jauh dari rumah.
Terima kasih atas kunjungannya.