Pages

Sabtu, 14 Februari 2015

Cerpen Individu



 Kali ini saya akan memberikan cerpen karya saya sendiri.


Menulis cerpen
Tema : Sedang meyeberang Sungai, hamper terbawa arus yang sangat deras
Pokok cerita : Aku dan teman-teman pergi mendaki Gunung Slaka. Saat pulang, hujan deras datang dan kami harus melewati sungai yang arusnya sangat deras. Aku dan 2 orang temanku terbawa arus namun akhirnya kami bertiga bisa selamat dengan cara berpegangan pada bambu.
Kerangka
1)   Tahap pengenalan
       Aku dan 5 orang temanku sudah berjanji akan pergi mendaki Gunung Slaka.
2)   Tahap pemunculan konflik
    Pada saat pulang, hujan deras datang dan kami harus menyeberang Sungai yang arusnya sangat deras.
3)   Tahap klimaks
Saaat menyeberang Sungai, aku dan 2 orang temanku terpeleset dan terbawa arus yang sangat deras.
4)   Tahap penurunan konflik
Aku dan 2 orang temanku bisa selamat dengan cara berpegangan pada bambu dan debogan ( pohon pisang)
5)   Tahap penyelesaian
Setelah kejadian itu, kami berjanji tidak akan bermain jauh-jauh karena kami masih anak-anak.


v Pengembangan

KESENANGAN BERUBAH MENJADI KETEGANGAN

     Pada saat liburan, Aku dan 5 orang temanku sudah berjanji akan pergi mendaki Gunung Slaka. Aku baru saja mandi sudah di tunggu oleh temanku yaitu Doni, Agus, dan Ari.
     “ Ga, cepatlah waktu sudah mulai siang !” ucap Agus yang bernada marah.
     “ Iya tunggu sebentar Aku sarapan dulu.” Jawabku.
    Setelah sarapan, Aku langsung mengeluarkan jurus tangan kilat dan kaki seribu untuk mempersiapkan perlengkapan dan di masukan ketas. Setelah itu Aku pamit kepada Ibu secara terburu-buru.
     “ Bu, Aku mau pergi sama teman-teman? Assalamu’alaikum.” Ucapku yang sedang tergesa-gesa.
     “ Wa’alaikumsallam, ehhh mau kemana nak? Jangan jauh-jauh perginya?” teriak Ibu.
Namun Aku tidak menjawabnya karena Aku dan 3 orang temanku harus kerumah Asep dan Aji dahulu.
      Sesampainya di rumah Asep, Agus berteriak.
      “ Sep, ayo kita berangkat?” teriak Agus yang terkenal dengan suaranya yang keras, namun hatinya lembut.
 Doni memotong teriakan Agus.
    “ Gus, jangan teriak-teriak, tidak sopan tau. Kita harus salam dulu.” Ucap Doni.
Lalu kami berempat mengetuk pintu rumah Asep.
    “ Assalamu’alaikum.” Ucap kami.
Lalu terdengar suara Asep.
    “ Wa’alaikumsallam.” Jawab Asep.
     Ternyata di dalam rumah Asep sudah ada Aji yang sedang menunggu kita berempat.
   “ Sudah lama nunggu kita ya Sep, Ji?” Tanya Aku kepada Asep dan Aji.
   “ Ya lumayan, sudah ada 10 menit.” Jawab Aji.
     Lalu kami berenam berangkat dengan lancar tanpa halangan. Melewati persawahan, sungai, dan hutan. Sekitar 2,5 jam perjalanan akhirya kami sampai di puncak Gunung Slaka. Gunung Slaka itu adalah Gunung mati/ tidak aktif.
      “Akhirnya kita sampai juga, walaupun lelah sekali naiknya.” Ucap Aku.
 Sesampainya disana, kami berfoto bersama dan makan singkong bakar.
    “ Asep, Doni, Aji, kalian cari kayu bakar, nanti Aku, Ari, Agus yang mengupas singkongnya.” Ucap Aku kepada teman-temanku.
     Setelah selesai makan, bermain, dll, kami bersiap untuk pulang karena waktu sudah mulai sore.
  “ Sudah mulai sore, ayo kita pulang.” Ucap Asep.
  “ Ayo cepat, cuacanya mulai mendung,nanti malah hujan!! Ucap Aji dengan muka cemas.
          Akhirnya yang kami khawatirkan terjadi. Hujan yang sangat lebat datang, dan kami harus menyeberang sungai yang arusnya deras.
   “ Aduh, kan betul omonganku tadi. Hujan datang dan kita belum menyeberang.” Ucap Aji yang semakin cemas.
   “ Apa tidak ada jalan lain selain harus menyeberang kali(sungai) wadas ?” Tanya Ari kepada kami.
   “ Ada, tapi jalannya jauh banget. Kalau kita lewat jalan yang lain, nanti sampai rumah kemalaman.” Jawab Agus.
  “ Aduh, kalau kemalaman nanti Aku dimaraih Bapak dan Ibuku.” Jawab Doni.
  “ Ya terpaksa kita harus menyeberang.” Jawab Aku.
     Lalu kita menyeberang kali Wadas ini. Tiba-tiba Aku, Aji, dan Ari terpeleset dan terbawa arus yang sangat deras.
   “ Tolonggg…, Kita terbawa arus.” Teriak Aku, Aji, dan Ari.
Asep, Doni, dan Agus berniat menolong kami. Namun arus yang sangat deras membuat mereka tidak berani.
     Aku berdoa dalam hati dan berusaha memegang benda yang kuat untuk menyelamatkan diri. Setelah sekitar 50 meter terbawa arus, Aku akhirnya bisa selamat dengan cara berpegangan pada bambu. Doni dan agus berusaha menyelamatkan Aji dan Ari, sedangkan Asep menariku dari sungai ke daratan.
   “ Pegang tanganku yang kuat Ga, jangan sampai lepas !” Ucap Asep kepada Aku.
Disaat yang bersamaan Doni dan Agus menyelamatkan Aji dan Ari dengan sebatang pohon pisang.
  “ Ji, Ar, kalian pegangan ke pohon pisang ini !!” Teriak Agus.
   Akhirnya kita bisa selamat dari arus yang sangat deras.
   “ Alhamdulillah kita bisa selamat, terima kasih kawan.” Ucapku.
  “ Kita jangan lagi pergi jauh-jauh dari rumah.” Ucap Ari dengan muka seperti akan nangis.
   “ yap, betul. Tadi Aku seperti tidak bernyawa lagi” Ucap Aji.
   “ Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan. Sebentar lagi sampai rumah.” Ucap Doni.
Walaupun jantung kami berdetak dag dig dug sangat kencang, kami melanjutkan perjalanan pulang.
    Setelah kejadian itu, kami tidak berani lagi bermain jauh-jauh dari rumah dan di Sungai pada saat hujan.

Amanat
1.     Sebaiknya kita kalau akan pergi, harus izin dahulu kepada orang tua dan izinya harus jelas serta harus mendengar perkataan orang tua.
2.     Kalau masih anak-anak perginya jangan jauh-jauh dari rumah.




Terima kasih atas kunjungannya.

0 komentar: